Memuat halaman...
Memuat halaman...
Benih Muhammadiyah di Giwangretno mulai tumbuh sejak masa sebelum berdirinya organisasi secara struktural. Adalah seorang guru agama setempat, lulusan Yogyakarta, yang pertama kali memperkenalkan ajaran dan praktik Muhammadiyah kepada warga desa meski saat itu Muhammadiyah masih terasa asing bagi masyarakat sekitar. Ketertarikan sejumlah tokoh muda pun tumbuh, salah satunya lewat bacaan karya Buya Hamka, hingga akhirnya digagaslah pendirian Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) di Giwangretno melalui konsultasi dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM).
PRM Giwangretno resmi berdiri pada 22 Juni 1986, ditandai dengan pelantikan dan Tabligh Akbar yang diselenggarakan di halaman rumah H. Mukhtar Muhasyim, salah satu sesepuh dan penasihat PRM. Pelantikan ini dihadiri perwakilan PCM dan PDM, dengan penceramah K.H. Hisyam Adnan dari Tegal. Ketua Umum pertama PRM Giwangretno adalah M. Djadun, BA, dengan Ketua PCM Sruweng saat itu H. Wahidun. Bersama PRM Jabres dan PRM Sruweng, PRM Giwangretno menjadi salah satu dari tiga ranting cikal bakal berdirinya Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sruweng.
Berbeda dengan PRM Jabres yang memiliki SD dan PAUD, atau PRM Sruweng yang memiliki Panti Asuhan dan MTs, PRM Giwangretno hingga kini baru memiliki amal usaha berupa lembaga pendidikan TPQ. Namun semangat dakwah tetap terjaga lewat kegiatan yang konsisten berjalan, terutama pengajian rutin setiap malam Rabu di Masjid Assalam, yang menjadi pusat kegiatan organisasi. Selain pengajian, PRM Giwangretno juga aktif menyelenggarakan kegiatan Ramadhan (qiyamul lail, buka bersama), penyembelihan dan distribusi hewan qurban, Muharram Ceria bekerja sama dengan LAZISMU, serta kegiatan sosial seperti arisan warga dan bantuan bagi anggota yang sakit atau berduka.
Pengelolaan kegiatan keagamaan kini juga mulai diteruskan oleh generasi muda Muhammadiyah, termasuk melalui pengembangan TPQ untuk anak-anak sebuah estafet yang terus dijaga meski PRM Giwangretno menghadapi keterbatasan sumber daya manusia dan dana dari generasi ke generasi.
Mayoritas warga Desa Giwangretno sendiri merupakan warga tradisionalis, dengan Muhammadiyah sebagai kelompok minoritas. Namun kehadiran amal usaha Muhammadiyah di level cabang seperti PKU Muhammadiyah Sruweng membuat manfaatnya tetap dapat dirasakan lintas latar belakang masyarakat.
"Teruslah belajar dengan tekun dan carilah ilmu di mana saja. Walaupun amal usaha Muhammadiyah di Giwangretno belum berkembang pesat secara fisik, tetaplah optimis dan berpotensi untuk berkembang di mana pun berada." Bapak Mahfudzo, Sesepuh PRM Giwangretno